Hideaki Anno dikenal sebagai salah satu sutradara anime yang levelnya bisa dibilang setara selebritis.
Pada tahun 1984, ia mendirikan Studio Gainax bersama Takami Akai dan Hiroyuki Yamaga. Ini menjadi tempatnya berkarya, sebelum mendirikan Khara.
Ia sangat terkenal di Jepang dan telah mengembangkan kariernya ke pembuatan film live action, akting, bahkan pengisi suara di samping karya-karya animenya.
1. Gunbuster

| Judul | Top wo Nerae! GunBuster |
| Genre | Action, Psychological, Sci-Fi |
| Rilis | Fall 1988 |
| Studio | Gainax |
Anno mengukuhkan namanya sebagai sutradara dengan debutnya, Gunbuster!, sebuah opera luar angkasa 6 episode yang membangun reputasinya.
OVA ini tampak seperti homage terhadap semangat super robot lama, namun dengan sentuhan khas Gainax.
Anno dalam portofolionya sudah terlibat di beberapa mecha terkenal dari Gundam sampai Macross. Kebanyakan sebagai key animator sampai mecha designer.
Premis Gunbuster dimulai ketika ras alien raksasa mirip serangga semakin mendekat ke Bumi. Mereka tampaknya bertekad untuk memusnahkan spesies manusia.
Umat manusia merespons dengan mengembangkan kapal perang antariksa dan robot tempur raksasa. Robot-robot ini dikendalikan oleh para pemuda terbaik dan tercerdas di Bumi.
Kisah dimulai pada tahun 2023, tidak lama setelah pertempuran pertama dengan alien, dan berpusat pada Noriko Takaya.
Ayah Noriko adalah seorang Kapten terkenal di armada antariksa yang tewas selama salah satu pertempuran pertama perang.
Sepanjang seri ini, Noriko, bersama dengan Kazumi Amano yang cantik dan berbakat, akan berjuang untuk mengatasi trauma perang, keraguan teman-temannya, dan krisis kepercayaan diri.
Anno menunjukkan bahwa bahkan dengan perjalanan waktu relatifistik yang kejam, Noriko dengan semangat juang adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan umat manusia.
Gunbuster adalah manifesto awal Anno tentang tanggung jawab kolektif, sesuatu yang akan ia kritik ulang dan rekonstruksi di masa depan.
Baca juga: Mengenal OVA (Original Video Animation) dalam Anime
2. Nadia: The Secret of Blue Water

| Judul | Fushigi no Umi no Nadia |
| Genre | Adventure, Comedy, Romance, Sci-Fi |
| Rilis | Spring 1990 |
| Studio | Gainax |
Nadia berawal dari ide orisinal Hayao Miyazaki, Anno mengadaptasi novel klasik 20.000 Leagues Under the Sea karya Jules Vernes menjadi petualangan steampunk.
Pada tahun 1889, dunia berada di puncak penemuan-penemuan besar dalam teknologi. Musuh jahat yang hanya dikenal sebagai Gargoyle, terobsesi untuk mengembalikan kejayaan kekaisaran Atlantis seperti dulu, dan mulai merencanakan penguasaannya atas dunia.
Nadia, dengan bantuan seorang penemu muda, Jean Raltique, dan kapten misterius Nemo dari kapal selam Nautilus, harus berjuang untuk menyelamatkan dunia dari Gargoyle dan Neo-Atlantis.
Serial ini sering dianalisis sebagai contoh utama "steampanku" Jepang, di mana nostalgia industri abad ke-19 digunakan untuk merefleksikan kekhawatiran Jepang di akhir abad ke-20 tentang globalisasi dan poskolonialisme.
Namun, yang paling signifikan adalah drama pada produksinya. Stres yang dialami Anno selama pembuatan Nadia, terutama tekanan untuk menyelesaikan episode-episode setelah makin populer, diduga menjadi pemicu periode depresi berat selama empat tahun.
Karena kesuksesan Nadia yang luar biasa, stasiun televisi meminta tambahan satu cour episode lagi. Pada saat itu, Anno mengerjakan serial tersebut selama 18 jam sehari.
Anno absen selama periode episode yang terkenal disebut Island arc, di mana Shinji Higuchi diminta untuk mengambil alih.
Island Arc antara episode 23-34 yang tidak disutradarai Anno, menunjukkan apa yang terjadi ketika visi naratif karakter, bahwa anak-anak dipaksa berkonfrontasi dengan realitas kedewasaan dan rantai komando militer, dirusak menjadi komedi absurd.
3. Neon Genesis Evangelion
| Judul | Shin Seiki Evangelion |
| Genre | Action, Drama, Mecha, Psychological, Sci-Fi |
| Rilis | Fall 1995 |
| Studio | Gainax |
Tidak ada analisis tentang Anno yang lengkap tanpa menyebut Evangelion.
Datang setelah gempa bumi Hanshin dan serangan gas sarin Aum Shinrikyo pada tahun 1995, Eva tidak bisa dilepaskan dari konteks keretakan sosial Jepang.
Pada tahun 2015, para Angel, mesin perang alien yang sangat besar dan dahsyat, muncul di Tokyo untuk kedua kalinya.
Satu-satunya harapan bagi kelangsungan hidup umat manusia terletak pada Evangelion, mesin tempur humanoid yang dikembangkan oleh NERV, sebuah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Mampu menahan apa pun yang dapat dilancarkan para Angel, satu kelemahan Evangelion terletak pada jumlah orang yang mampu mengemudikannya yang terbatas.
Hanya segelintir remaja, semuanya lahir empat belas tahun yang lalu, sembilan bulan setelah para Angel pertama kali muncul, yang mampu berinteraksi dengan Evangelion.
Salah satu remaja tersebut adalah Shinji Ikari, yang ayahnya memimpin tim NERV yang mengembangkan dan memelihara Evangelion.
Terjebak dalam pusaran pertempuran dan peristiwa yang tidak ia pahami, Shinji dipaksa untuk menggali kedalaman sumber daya batinnya sendiri.
Premis serial ini memang tentang menyelamatkan dunia dari Angel, tapi topik tentang ketidakmampuan manusia untuk terhubung jadi fokus utama.
Akhir episode 25-26 yang abstrak, di mana Shinji bertepuk tangan di ruang putih metafisik, adalah penolakan Anno terhadap narasi "akhir bahagia" yang dangkal.
Banyak yang mengkritik akhir ini, dari budget produksi menipis sampai Anno sendiri yang galau bagaimana cara mengakhirinya. Maka dirilis film End of Evangelion.
Baca juga: Panduan Nonton Anime Neon Genesis Evangelion
4. Kare Kano

| Judul | Kareshi Kanojo no Jijou |
| Genre | Comedy, Drama, Romance |
| Rilis | Fall 1998 |
| Studio | Gainax, J.C. Staff |
Mengadaptasi manga shoujo karya Masami Tsuda, Anno mendapati dirinya dibatasi oleh sensor TV Tokyo pasca insiden Pokemon tahun 1997.
Frustrasi itu melahirkan eksperimen visual yang paling liar. Anno menggunakan animasi "low-tech" seperti kertas guntingan, foto nyata, coretan pensil warna. Alasannya entah karena kekurangan dana, atau sebagai pernyataan filosofis.
Ketika Yukino Miyazawa, si karakter "sempurna", kehilangan kendali atas topeng sosialnya, animasinya menjadi kaku, terfragmentasi, bahkan berubah menjadi raksasa kaiju dari guntingan kertas.
Kare Kano mengajarkan bahwa ketidaksempurnaan visual adalah representasi paling jujur dari kekacauan batin. Ini adalah transisi Anno dari pembuat cerita menjadi kritikus medium itu sendiri.
5. Re: Cutie Honey
| Judul | Re: Cutie Honey |
| Genre | Action, Comedy, Ecchi, Magical Girl |
| Rilis | Summer 2004 |
| Studio | Toei Animation |
Setelah mencoba live-action dengan Love & Pop dan Shiki-Jitsu, Anno kembali ke anime dengan Re: Cutie Honey (OVA 3 episode).
Proyek ini menarik karena meskipun Anno terdaftar sebagai sutradara, ia memberikan kebebasan penuh kepada tiga sutradara berbeda. Ada Hiroyuki Imaishi, Takamichi Ito, dan Masayuki, masing-masing menghasilkan gaya yang sangat kontras.
Cutie Honey merupakan karya Go Nagai yang jadi inisiasi genre magical girl sekaligus fanservice.
Honey Kisaragi, hasil dari eksperimen unggulan mendiang Profesor Kisaragi. Sebagai ahli penyamaran, Honey dapat secara ajaib mengubah penampilan fisik dan pakaiannya.
Dengan menekan tombol berbentuk hati di kalungnya, ia mengubah dirinya menjadi Cutie Honey, pejuang cinta dan keadilan, yang berpakaian seksi.
Episode 1 (Imaishi) hiper-kinetik dan liar khas Gainax. Episode 2 sengaja bergaya retro Toei, adaptasi aslinya dulu. Episode 3 (Masayuki) tiba-tiba berubah menjadi gelap dengan estetika "emergency display" khas Eva.
6. Rebuild of Evangelion
| Judul | Shin Evangelion |
| Genre | Action, Drama, Mecha, Psychological, Sci-Fi |
| Rilis | 2007-2021 |
| Studio | Khara |
Tampaknya Anno masih galau dengan bagaimana mengakhiri Evangelion.
Shin Evangelion adalah proyek paling kompleks secara intelektual karena ia berfungsi sebagai sekuel metafiksi dari realitas itu sendiri.
Dua film pertama bisa dibilang rekap dari versi serial aslinya, dengan beberapa tambahan seperti masuknya karakter Mari Makinami.
Setelah gempa bumi besar Jepang Timur 2011, yang mengungkap ketidakmampuan pemerintah dan krisis nuklir Fukushima, Anno merasa perlu untuk "membangun ulang" sejarah.
Pada film keempat, Thrice Upon a Time, Anno tidak hanya menyelesaikan cerita tetapi juga membebaskan karakter dari siklus naratif aslinya.
Shinji Ikari, yang selama 25 tahun menjadi ikon depresi, akhirnya dewasa. Anno mengakui melalui narasi bahwa penderitaan tidak boleh menjadi identitas permanen.
*
Menelusuri karya Hideaki Anno berarti menelusuri terapi seorang otaku yang menjadi filsuf pop kultur.
Karya Anno di luar anime, seperti Shin Godzilla, Shin Kamen Rider dan proyek Shin Ultramen, merupakan bukti cintanya pada tokusatsu.
