Wuthering Waves: Dari Genshin Killer Sampai Gooner Game

wuthering waves kuro games

Kalau kamu penggemar game gacha open-world, pasti sudah tidak asing dengan Wuthering Waves (WuWa).

Sebelum rilis, game ini digadang-gadang sebagai "Genshin Killer", sang penantang serius yang bakal menggulingkan tahta Genshin Impact dari HoYoverse. Tapi setelah beberapa bulan berjalan, julukannya malah bergeser menjadi "Gooner Game". Apa yang sebenarnya terjadi?

Ambisi Jadi Genshin Killer

Kuro Games, pengembang di balik Punishing: Gray Raven, dikenal dengan gameplay aksi yang cepat dan menantang. Saat pertama kali Wuthering Waves diumumkan, ekspektasi melambung tinggi.

Grafis apik, dunia pasca-apokaliptik yang kelam, serta sistem pertarungan yang lebih teknis dibanding Genshin, seolah semua kelemahan Genshin ingin ditambal di sini.

Ditambah lagi, banyak pemain yang mulai bosan dengan formula Genshin yang terasa repetitif. WuWa hadir sebagai angin segar: ada parry, dodge yang krusial, counter, dan eksplorasi vertikal yang lebih canggih. Tak heran jika banyak yang menyebutnya "Genshin Killer".

Sayangnya, saat closed beta dan uji coba terbuka, WuWa justru diterima dengan hangat sekaligus kritik pedas. Masalah teknis seperti frame drop, stuttering, dan bug dialog membuat pengalaman bermain kurang mulus.

Cerita awal juga dinilai terlalu serius dan kaku, berbeda dengan Genshin yang ringan dan mudah dicerna.

Namun, Kuro Games cepat merespons. Mereka merombak besar-besaran storyline awal, menambah adegan skip, serta mengoptimalkan performa. Hingga saat ini, WuWa terus diperbaiki dan mendapat pujian dari komunitas yang setia.

Ketika Wuthering Waves Jadi "Gooner Game"

Nah, ini bagian yang menarik. Istilah "gooner game" muncul dari komunitas Barat, khususnya dari streamer dan meme culture

"Goon" dalam konteks ini merujuk pada perilaku menonton atau bermain game hanya demi fan service visual yang mengumbar daya tarik fisik karakter.

Beberapa hal yang memicu julukan ini. Mulai dari Rover versi perempuan, Changli, Shorekeeper hingga Cantarella, desain mereka dinilai sengaja dibuat dengan proporsi tubuh yang eksplisit, pakaian minim, dan idle animation yang fokus ke area tertentu. Dibanding Genshin, WuWa lebih berani.

Saat exploration atau cutscene, kamera kadang mengambil sudut yang tidak biasa, seperti dari bawah, fokus ke belakang karakter, atau close-up yang terkesan disengaja. Memang tidak vulgar, tapi cukup untuk memicu tawa dan komentar cabul.

Di subreddit WuWa, Discord, atau Twitter/X, tidak butuh waktu lama bagi para meme lord untuk mengubah setiap momen "mencurigakan" menjadi konten gooning. Dari situ, label "WuWa = Gooner Game" menyebar dengan cepat.

Karena awalnya disebut "Genshin Killer", ketika WuWa tidak mampu menggulingkan Genshin secara komersial (pendapatan bulanan masih kalah jauh), komunitas mencari identitas baru buat game ini. Alih-alih killer, WuWa justru dikenal sebagai "game buat para gooner", sebuah julukan yang dilekatkan dengan nada bercanda sekaligus serius.

Tergantung sudut pandang. Bagi pemain yang memang suka fan service, mereka justru senang. Bagi pemain yang datang karena janji combat dan cerita serius, mereka mungkin merasa identitas game ini jadi "murah".

Kuro Games sendiri belum secara resmi merespons label ini, tapi dari update terbaru, mereka tetap menambahkan karakter-karakter dengan desain "menarik" tanpa mengorbankan gameplay.

Yang jelas, Wuthering Waves tetap punya basis pemain loyal. Combat-nya tetap solid, eksplorasinya menyenangkan, dan Kuro Games terkenal dengan kedermawanan reward in-game. Jadi, jangan terlalu hanyut dengan julukan "gooner game", itu lebih cerminan budaya internet daripada kualitas game itu sendiri.

Wuthering Waves memulai perjalanannya sebagai calon raja baru genre open-world gacha, tapi karena ekspektasi terlalu tinggi dan realitas teknis yang kurang mulus, kurang berhasil menjadi Genshin Killer. Namun, alih-alih mati, kemudian menemukan posisi unik sebagai game yang dibicarakan karena desain karakternya yang berani dan komunitasnya yang cabul.

Jadi, apakah WuWa layak dimainkan? Tentu, terutama jika kamu bosan dengan Genshin dan ingin combat lebih seru. Tapi siapkan dirimu untuk sesekali geleng-geleng kepala melihat idle animation karakter favoritmu. Atau justru itu yang dicari?

Pekerja teks komersial, juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan otaku dengan kearifan lokal

Posting Komentar

Berkomentarlah sebelum komentar dilarang. Jika kolom komentar enggak muncul, hapus cache browser atau gunakan versi web.